Selasa, 16 Februari 2016

Evaluasi Koleksi Menggunakan Metode Conspectus Bidang Bimbingan Konseling Di Perpustakaan Stain Curup


A.                LATAR BELAKANG
Perpustakaan sebagai salah satu pembelajaran dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa, sekaligus menjadi tempat yang menyenangkan dan mengasikkan. Perpustakaan dalam hal ini perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu institusi yang melekat pada jalur pendidikan formal yang berfungsi untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di universitas, akademik, maupun sekolah tinggi lainnya. Perpustakaan merupakan jantung dari sebuah universitas yang bereputasi tinggi biasanya memiliki investasi sumber daya pengetahuan yang tinggi.[1]
Dalam mencari evaluasi koleksi di perpustakaan dengan melakukan evaluasi koleksi yang dapat dijadikan sebagai salah satu alat yang penting untuk mengetahui atau mengukur seberapa besar kebutuhan pemustaka dapat dipenuhi oleh perpustakaan. Begitu juga dengan ketersediaan koleksi subjek bidang Bimbingan konseling dapat diketahui dengan melakukan evaluasi koleksi. Hal ini karena perpustakaan STAIN Curup sebagai perpustakaan yang melayani sivitas akademika dari berbagai jurusan dan program studi. Sehingga dengan salah satu metode yang bisa digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap koleksi adalah metode conspectus, yang merupakan salah satu dari metode untuk mengukur koleksi. sehingga maksud dari tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan koleksi buku bidang bimbingan konseling yang sesuai dengan proses pengadaan koleksi dan memetakan kekuatan dan kelemahan koleksi buku bidang bimbingan konseling yang dimiliki perpustakaan STAI Curup. Hal ini data yang dikumpulkan diukur dengan melakukan analisis dan mencocokkan dengan daftar standar indikator conspectus. Sehingga dalam makalah ini akan dipaparkan hasil penelitian evaluasi koleksi dengan metode conspectus.
B.                 LANDASAN TEORI
1.                  Latar Belakang Metode Conspectus
Metode conspectus muncul sebagai upaya manajemen perpustakaan dalam menyiasati peningkatan kebutuhan informasi yang penat ditengah terbatasnya anggaran perpustakaan. Informasi mengenai latar belakang historis metode conspectus diperlukan agar fungsi dan tujuan dapat lebih dipahami secara utuh sehingga penerapannya di perpusatkaan dapat disesuaikan denan kebutuhan perpustakaan itu sendiri.[2]
Pada tahun 1950-1980-an, terjadi peningkatan pengembangan koleksi riset perpustakaan-perpustakaan di Amerika serikat. Ekspansi sektor pendidikan, beasiswa, dan publikasi pasca Perang Dunia II menciptakan optimisme yang besar terhadap karya-karya intelektual yang diakomodasi lewat beragam perpustakaan riset yang bermunculan. Akibatnya perpustakaan-perpustakaan riset harus menangani jumlah koleksi yang sangat besar. Pada periode ini kemudian terjadi pergeseran focus kerja perpustakaan dari pengembangan koleksi menjadi manajemen koleksi, dimana dalam menejemen koleksi tersebut menimbulkan beragam metode evaluasi koleksi dengan berbagai pendekatan. Kondisi-kondisi pada akhir abad ke-20 seperti peningkatan jumlah terbitan, menurut jumlah anggaran perpusatkaan, kurangnya ruang penyimpanan, masalah preservasi serta format dokumen turut berperan dalam kemunculan metode evaluasi koleksi berdasarkan conspectus.[3]
Research libraries Group (RLG) merintis konsep dan insfrakstruktur evaluasi koleksi berdasarkan metode conspectus pada awal tahun 1980-an. The research libraries group (RLG) itu sendiri didirikan pada tahun 1974 yang merupakan konsorsium dari Perpustakaan UMUM Harvard, Columbia, dan New York, yang mengembangkan conspectus sebagai alat untuk menilai koleksi perpusatkaan. RLG Conspectus disusun berdasarkan divisi, aktegori subjek, dan kelompok subjek. Pada tahun 1983, Assosiation of Research Libraries (ARL) mengadopsi conspectus dalam proyek inventarisasi koleksi perpustakaan-perpustakaan di Amerika Utara (North American Collection Inventory Project) di mana 100 perpustakaan anggota ARL menggunakan conspectus untuk menganalisis koleksi perpustakaan (Thomas, 2003, p.41).[4]
Pada tahun 1990, Pasific Northwest Conseptus yang ditangani oleh Oregon State Library Foundation diambil alih oleh Western Library Network (WLN) yang kemudian dikenal sebagai WLN Conspectus, yang selanjutnya mengembangkan perangkat lunak (software) berbasis conspectus untuk membuat pangkalan data (database) penilaian koleksi untuk perpustakaan-perpustakaan. WLN dan online Catalogue Library (OCLC) terus melanjutkan penggunaan conspectus versi sampai tahun 2000.[5]
2.                  Conspectus sebagai Sebuah Pendekatan Evaluasi Koleksi
Dalam Western Library Network (WLN) Collection Assesment Manual 4th Edition, dijelaskan bahwa conspectus adalah seperangkat kode standar, alat, survai yang digunakan untuk memberi penilaian koleksi secara sistematis (WLN Collection Assesment Manual 4th Edition, 2001, P.13).[6] Metode conspectus dpat memberikan penilaian bedasarkan subjek terhadap kekuatan koleksi perpustakaan. pada masing-masing subjek, perpustakaan menandai dengan kode alfanumerik yag mengindikasikan tingkat dan bahasa koleksi yang ada
WLN Colection Assesment Manual 4th juga menjelaskan lebih spesifik tentang karakteristik dan elemen dari conspectus:[7]
1.                  Struktur
Stuktur conspectus disusun secara hirarki ini dimulai dari pembagian divisi yang luas samai pembagian subjek yang sangat spesifik. perpustakaan dapat menggnakan salah satu atau seluruh dari hirarki ini. struktur conspectus adalah sebagai berikut:
a.              Divisi adalah hirarki yang pang pertama dari conspectus. Dalam WLN Conspectus    terdapat 24 divisi yang tidak diatur berdasarkan skema klasifikasi.
b.             Kategori adalah pembagian lebih lanjut dari devisi. Terdapat 500 penjelasan kategori       yang diidentifikasi berdasarkan skema klasifikasi LC maupun Dewey.
c.              Subjek adalah hirarki yang ketiga karenanya lebih bersifat spesifik dan terdiri   atas 4000 subjek.
2.                  Kode Standar
Conspectus menggunakan nilai tingkatan numerik, penilaian numerik menggunakan indikator skala 0-5 di mana masing-masing level adalah kode standar yang menjelaskan jenis aktivitas yang dapat didukung oleh aras koleksi (Collection Level).[8]
a.              Aquisition Commitment (AC) menjelaskan tingkat pertumbuhan koleksi
b.             Collection Goal (CG) mengidentifikasi kebutuhan informasi aktual dan kebutuhan informasi yang dapat diantisipasi berdasarkan misi,program dan pengguna perpustakaan.
c.              Current Collection (CL) menggambarkan  kekuatan koleksi dalam suatu area subjek tertentu.
Hal ini akan dijelaskan secara jelas dalam tabel Indikator level untuk AC, CG, dan CL dibawah ini:
Kode
Aras
Deskripsi
0
Out of Scope (Di Luar Cakupan)
Perpustakaan tidak, belum, atau merencanakan untuk mengoreksi bahan literatur pada subjek         tersebut, karena subjek tersebut dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pengguna atau di luar lembaga induk
1





1a



1b
Minimal Level (Aras Minimal)




Mnimal Level Uneven Coverage (Aras Minimal, Cakupan, Tidak Merata)

Minmal level Even Coverage (Aras Minimal, Cakupan Merata )
Koleksi yang dimiliki merupakan karya-karya utama (basic work) dalam suatu subjek pengetahuan. Bahan literatur tersebut akan selalu di review secara berkala untuk memperoleh    informasi yang mutakhir, sedangkan edisi lama akan diambil dari rak
Pada aras ini, perpustakaan hanya memiliki bahan literatur         yang terbatas      pada karya-karya utama dan tidak memeperlihatkan cakupan subjek yang sistematis
Pada aras ini perpustakaan hanya memiliki sedikit literatur-literatur utama pada suatu subjek, namun memiliki sejumlah literatur              inti yang ditulis oleh pengarang-pengarang utama serta cakupan bahan literatur yang dimiliki cukup representatif
2












2a












2b
Basic Information Level (Aras Informasi Dasar)











Basic Information Level Introductory (Aras informasi Dasar, Pengantar)










Basic Information Level Advence (Aras Informasi Dasar, Mahir)
Perpustakaan menyimpan koleksi yang selekstif dalam rangka penyebaran disiplin ilmu atau        subjek yang bersangkutan. Cakupan bahan literatur antara lain:
1)   Kamus  atau ensiklpedi bidang ilmu
2)   Akses ke pangkalan data bibliografi
3)   Edisi terseleksi ari karya-karya utama pada         disiplin ilmu yang bersangkutan
4)   Penelitian-penelitian penting menyangkut aspek historisnya
5)   Buku pegangan
6)   Jurnal-jurnal ilmiah utama pada disiplin ilmu  yang bersangkutan
Penekanan pada aras  ini adalah menyediakan bahan literatur utama (core material) untuk mendefinisikan suatu subjek. Koleksi pada tngkat ini mencangkup bahan rujukan utama dan karya-karya yang dapat memberikan penjelasan lebih lanjut seperti:
1)   Buku teks
2)   Kajian historis dari perkembangan suatu subjek
3)   Karya umum yang berkaitan denga topik-topik utama pada suatu subjek yang dilengkapi dengan tabel, skema, dan ilustrasi.
4)   Jurnal-jurnal ilmiah terseleksi.
Pada tingkat ini bahan literatur yang dimiliki hanya disediakan dalam rangka pengumpulan informasi dasar tentang suatu subjek tertentu dengan cakupan yang lebih luas dan lebih dalam untuk mendefinisikan dan memerkenalkan suatu subjek. Karya-karya dasar dalam bentuk:
1)   Buku teks
2)   Kajian historis, bahan literatur rujukan berkaitan dengan topik-topik tertetu dari satu subjek
3)   Jurnal-jurnal ilmiah yang selekstif.       Informasi dasar tahap       lanjut      yang disediakan untuk mendukung mata kuliah dasar mahasiswa, disamping memenuhi kebutuhan infomasi dasar bagi universitas.
3












3a















3b
Study/Instructional Support      Level (Aras Pendukung  kebutuhan instruksional/ kajian)









Study or Instructional Support Level, Introdutory (Aras Pendukung Kebutuhan Instruksional/ ajian, pengantar)











Study or Instructional Support Level, Advanced (Aras Pendukung Kebutuhan Instruksional/ kajian, tingkat lanjut)
Yang ditekankan pada aras ini adalah bab literatur yang dikoleksi perpustakaan harus mendukung suatu disiplin ilmu. Bahan literatur yang tersedia meliputi cakupan yang lebih luas untuk karya-karya utama dalam berbagai format, sejumlah bahan retropektif yang bernilai klasik, koleksi yang lengkap dari karya-karya penulis penting pada suatu disiplin ilmu, koleksi terpilih untuk kara-karya penulis sekuder, jurnal-jurnal terpilih untuk cakupan subjek, akses menuju pagkalan data CD ROM, dan bahan rujukan utama yang berisi bibliografi ysng mendukung subjek yang bersangkutan.
Aras ini merupakan subdivisi dari tingkat 3 yang memberikan sumber dalam rangka memlihara cabang pengetahuan dai suatu subjek. Koleksi pada tahap ini sama dengan apa yang tercakup pada tingkat 3 yang meliputi karya-karya utama dari suatu bidang disipin ilmu dalam berbagai format, bahan literatur retrospektif klasik, jurnal-jurnal utama dari suatu subjek, akses menuju pangkalan data CD ROM, serta bahan rujukan yang mencangkup informasi bibliografi yang berhubungan denga bidang disiplin ilmu yang bersangkutan. Yang menjadi perbedaan dengan tingkat sebelumnya adalah meskipun bahan literatur mendukung perkuliahan program sarjana dan program kajian mandiri namun tidak cukup untu mendukung program magister.
Pada aras ini, koleksi mencangkup bahan literatur yang dianggap memenuhi syarat untuk mmelihara suatu bidang disiplin ilmu. Koleksi meliputi jurnal-jurnal utama dari topik-topik primer dan sekunder dari suau subjek, bahan literatur penting retrospektif, literatur substantif yang memberikan kedalaman kajian untuk kepentinga riset dan evaluasi, akses menuju pangkalan data CD ROM, bahan rujukan yang berisi sumber bibliografi utama pada suatu subjek. Pada tingat ini, bahan literatur sudah memadahi untuk program sarjana dan magister.
4
Research Level (Aras Penelitian)
Pada aras riset ini, perpustakaan mengoleksi bahan literatur yang tidak dipubikasikan seperti hasil penelitian, tesis, dan disertasi. Termasuk juga di dalamnya laporan penelitian, hasil penemuan baru, hasil eksperimen ilmiah, dan informasi penting untuk keentingan penelitian. Bahan literatur juga mencakup rujukan penting dan monograf terseleksi, jurnal-jurnal ilmiah yang lebih luas dan beragam. Bahan literatur lama tetap disimpan untuk kepeningan kajian historis. Tingkat ini ditujukan untuk doktor dan penelitian murni. 
5
Comprehensive Level (Aras Komprehensif)
Pada aras komprhensif atau menyeluruh ini, bahan literatur mencangkup semua koleksi yang ada pada tingkat-tingkat sebelumnya yang tersedia dalam berbagai format serta cakupan bahasa yang lebih luas.

3.                  Kode Cakupan Bahasa
Cakupan bahasa sangat berkaitan erat dengan koleksi. Selain itu, representasi bahan  berbahasa Inggris dan  bahasa lainnya merupakan salah satu dimensi penting dalam menjelaskan keadaan koleksi.[9] Hal ini dijelaskan dalam tabel dibawah:
Kode
Jenis
Penjelasan
E
English
Bahan literatur berbahasa Inggris mendominasi, sedangkan koleksi dalam bahasa lain hanya tersedia sedikit atau bahkan tidak sama sekali.
F
Selected non-English Languages
Bahan literatur yang bukan berbahasa Inggris tersedia secara terseleksi untuk melengkapi bahan lieratur berbahasa Inggris.
W
Wide Selection Language
Seleksi yang luas dari koleksi dalam berbagai bahasa dan tidak ada kebijakan membatasi bahan literatur berdasarkan bahasa tertentu.
Y
One-Non English Language
Bahan literatur didominasi oleh salah satu bahasa selain bahasa Inggris.

C.                PEMBAHASAN
1.                  Hasil Penelitian
Metode Conspectus, dalam penerapannya relatif sederhana. Unit analasisnya adalah Perpustakaan STAIN Curup dan sub-sub topic dari subjek yang dalam kolom-kolom akan diteliti. Conspectus menggunakan nilai tingkatan numerik untuk memberikan gambaran mengenai Current Collection, Aquisition, Commitment, dan Collection Goal. Penelitian numerik menggunakan indikator skala 0-5 di maan masing-masing level adalah kode standar yang menjelaskan jenis sktivitas yang dapat didukung oleh aras koleksi (collection level). Sesuai table indocator level Conspectus.
Pencantuman kode bahasa yang digunakan penting untuk dilakukan dalam mengukur intensitas koleksi pada Perpustakaan STAIN Curup. Hal ini untuk memperlihatkan prioritas bahasa koleksi yang disimpan  dan memperlihatkan kelebihan sekaligus kekurangan dari Perpustakaan itu sendiri. Dalam membuat perkiraan dan mendeskripsikan intensitas koleksi menurut kode bahasa, juga menggunakan standar. Seperangkat kode bahasa diberikan kepada subjek tersebut untuk mengidentifikasi variasi bahasanya.
Dalam analisis penelitian, dilakukan dengan tidak mengubah substansi dari tujuan utama penelitian ini yaitu analisis kekuatan dan kelemahan koleksi untuk subjek bidang Bimbingan  konseling di Perpustakaan STAIN Curup. Pembatasan tersebut dilakukan pada:
1.                  Koleksi yang dijadikan subjek penelitian adalah buku, bahwa koleki CD ROM tidak dijadikan bahan penelitian karena Perpustakaan STAIN Curup belum memiliki koleksi bahan literatur dalam format digital yang memadai. Sementara itu, koleksi jurnal juga dijadikan bahan penelitian oelh karena itunya yang masih terbatas dan belum mendukung seperti keadaan jurnal yang secara kualitas dan kuantitas masih sangat minim dan tidak bersifat kontinu.
2.                  Dalam penelitian ini dilakukan pembandingan judul koleksi yang represntatif dari inti perpustakaan antara bahan monograf dan jurnal.
3.                  Dalam penelitian ini mengabaikan kondisi fisik koleksi, data sirkulasi, pinjaman antarpustaka, dan anggaran perpustakaan dengan alasan bahwa tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran mengenai kekuatan dan kelemahan koleksi. Dan hal ini mengarahkan pada kajian koleksi dan kaitannya dengan pemanfaatan koleksi.
Setelah pengumpulan data diperoleh, seperti yang dijelaskan pada WLN Conspectus bahwa tahap selanjutnya adalah anslisis data. Berdasakan data yang diperoleh terhadap koleksi buku bidang Bimbingan konseling yang dimiliki Perpustakaan STAIN Curup dengan menggunakan metode, maka dapat diperoleh beberapa hasil berikut:
a)                  Distribusi Subjek Bimbingan Konseling
Dalam penelitian ini, mengguanakan Klasifikasi Dewey dalam proses penelitian indikator. Alasan penggunaan Dewey adalah kalsaifikasi umum digunakan oleh perpustakaan-perpustakaan dan perpustakaan STAIN Curup juga menggunakan klasifikasi Dewey dengan versi yang sama. Berdasarkan skema klasifikasi Dewey Bimbingan koleksi terdistribusi pada kelas 155-159 dan 370-371. Distribusi subjek koleksi dapat dijelaskan dalam tabel berikut:
No.
Notasi Kelas
Bidang Subjek
Jumlah
Presentase
1
155.1-155.9
Psikologi Umum
8
7.3%
2
156.1-156.9
Psikologi Perkembangan
19
17.4%
3
157.1-157.9
Psikologi Pendidikan
8
7.3%
4
158.1-158.9
Psikologi Agama
9
8.2%
5
159.1-159.9
Psikologi Konseling
23
21.1%
6
370.1-370.9
Sistem Layanan Konseling
13
11.9%
7
371.1-371.9
Bimbingan dan Konseling
29
26.2%
Total
109
100%

Sedangkan mengenai daftar koleksi buku bidang bimbingan konseling di perpustakaan STAIN Curup yaitu sebagai berikut:
No
Nomor Kelas
Jumlah
Keterangan
1
155
8
Peringkat 6
2
156
19
Peringkat 3
3
157
8
Peringkat 6
4
158
9
Peringkat 5
5
159
23
Peringkat 2
6
370
13
Peringkat 4
7
371
29
Peringkat 1

Distribusi subjek dan daftar koleksi buku bidang Bimbingan koleksi tersebut dapat terlihat jumlah persentase tertinggi mewakili dominasi subjek dalam bidang Bimbingan Konseling. Dominasi subjek dokumen dilihat berdasarkan jumlah koleksi yang ada dalam koleksi perpustakaan. Berdasarkan peringkat 1-3 urutan subjek adalah 371 (Bimbingan Konseling) dengan presentase 26.6%, 159 (Psikologi Konseling) dengan presentase 21.1%, dan 156 (Psikologi Perkembangan) dengaan presentase 17.4%. sementara itu, ada tiga subjek yang dimiliki koleksi kurang dari sepuluh judul atau sementara dengan kisaran 7-8% dari keseluruhan subjek Bimbingan Konseling.
Berdasarkan data dari STAIN Curup, saat ini STAIN Curup membuka 8 program studi pendidikan sarjana di mana Program Bimbingan dan Konseling yang bersinggungan langsung dengan subjek Bimbingan Konseling atau kelas 371 dengan tujuan untuk mendukung proses belajar mengajar pada program atusi bimbingan dan Konseling. Sementara itu, subjek Psikologi Konseling (159) menempati urutan kedua dalam persentase distribusi subjek karena tuntutan kebutuhanliteratur Bimbingan dan Konseling.
Ketersediaan koleksi bidang Bimbingan Konseling di Perpustakaan STAIN Curup menunjukkan belum memenuhi standar perpustakaan Perguruan Tinggi. Hal ini didasarkan pada buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi yang dikeluarkan oleh Depdiknas (2004:52) bahwa jumlah koleksi wajib yang harus dimiliki minimal 80% (295 judul). Namun koleksi wajib yang tersedia hanya 36% (109 judul). Kendala untuk memenuhi standar ketersediaan koleksi wajib sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala Perpusatkaan STAIN Curup bahwa manajemen perpustakaan belum memiliki kebijakan tertulis mengenai pengadaan koleksi bidang Bimbingan dan Konseling dikarenakan tidak adanya komunikasi antara pihak perpustakaan dengan pihak Program studi sehingga menyebabkan kurang efektifnya manajemen pendistribusian akuisisi bahan litertaur bidang Bimbingan konseling. Disamping itu dari hasil pengamatan penulis minimnya terbitan Bimbingan Konseling baik yang dihasilkan pengarangpengarang loacl maupun pengarang Luar Negeri sehingga menyebabkan perpustakaan kesulitan untuk melakukan jumlah bahan litertaur secara signifikan.
b)                 Kekuatan dan Kelemahan Koleksi
            Dalam pendataan dan penafsiran terhadap koleksi buku bidang Bimbingan Konseling yang dimiliki oleh Perpustakaan STAIN Curup dengan menerapkan metode conspectus dapat diketahui kekuatan koleksi buku bidang Bimbingan Konseling pada Perpustakaan STAIN Curup sebagai berikut:
No.
Nomer Kelas
Subjek
Aras Koleksi Aktual (CCL)
Aras Koleksi yang Diharapkan (CG)
Komputer
1
371
Bimbingan dan Konseling
2by
3a
Bahan literatur perlu penambahan
2
159
Psikologi Konseling
2by
3a
Bahan literatur penambahan
3
156
Psikologi Perkembangan
2by
3a
Bahan literatur perlu penambahan
4
370
Sistem Layanan Konseling
1by
2a
Bahan litertaur perlu penambahan
5
158
Psikologi Agama
1by
2a
Bahan litertur perlu penambahan
6
155
Psikologi Umum
1by
2a
Bahan literatur perlu penambahan
7
157
Psikologi Pendidikan
1by
2a
Bahan literatur perlu penambahan
Kekuatan koleksi bimbingan Bimbingan Konseling di Peprustakaan STAIN Curup adalah pada tiga peringkat teratas yakni pada bidang Bimbingan dan Konseling, Psikologi Konseling dan Psikologi Perkembangan. Masing-masing berasa pada level 2by (Basic information Level : Advance) yang akan ditingkatkan menjadi level 3a (Study or Instructional Support Level). Peningkatan level dari CCL (Aras koleksi aktual) ke GG (Aras koleksi yang diharapkan) adalah satu langkah. Misalnya, CCL-Nya 1b maka Cgnya 2a, apabila CCL-nya 2a maka CG-nya 2b demikian seterusnya. Hal ini dilakukan dengan pertimbnagan melihat kondisi keuangan dan peluang pengembangan koleksi buku itu sendiri. Dalam penentuan level koleksi buku tersebut didasarkan pada penilaian evaluator yakni: Ketua prodi Bimbingan Konseling sebagai pihak yang mengetahui perkembangan prodi BK dan mempunyai kewenangan terhadap kemajuan prodi BK ke depan, kepala perpustakaan STAIN Curup dan 2 orang pustakawan sebagai pihak yang mengelola perpustakaan serta dosen dan mahasiswa BK yang aktif sebagao penguna jasa layanan perpusatkaan bidang bimbingan konseling, diamana dalam penilaian tersebut level 4 dan 5 tidak menggunakan dalam menilai koleksi buku saat ini dengan pertimbangan:
1.                  Perpustakaan STAI Curup belum mampu mengelola dengan baik jurnaljurnal yang dimiliki dan belum memiliki data yang baik tentang koleksi jurna;l yang dimiliki para pengajar.
2.                  Level 4 dan 5 baru akan digunakan penerapan metode Conspectus di Perpustakaan STAIN Curup apabila karya-karya utama yang dimiliki sudah memadahi. Mengingat keberadaan karya-karya utama dibidang Bimbingan Konseling tersebut sangat penting sebagai penunjang proses belajar mengajar pada Program studi Bimbingan dan Konseling.
Aras indikator yang diberikan oleh tiga orang evaluator untuk Aras Koleksi Aktual (CCL) berkisaran antara 1bY hingga 2bY (penjelasan mengenai indikator). Penilaian untuk CCL hanya berada pada kisaran 1bY hingga 2bY. Ini disebabkan selain karena perpustakaan memiliki kedalaman subjek yang terbatas, juga disebabkan karen perpustkaan belum memiliki koleksi jurnal dan koleksi referen. Koleksi kelas 371, 159, dan kelas 156 memperoleh level 2 disebabkan oleh judul-judul yang tersedia cukup bervariasi sehingga kondisinya lebih baik dari kelas lainnya. Sehingga dasar dari penilaian level indikator yang diberikan oleh evaluator juga dipengaruhi oleh jumlah koleksi untuk kelas tersebut lebih besar daripada kelas lainnya. Koleksi pada kelas ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai koleksi inti peprustakaan. Sehingga koleksi yang berada pada aras 2 mungkin bisa memperoleh aras yang lebih tinggi dan berfungsi sebagai oleksi inti perpustakaan bila didukung oleh bahan-bahan literatur seperti jurnal yang dipublikasikan, serta hasil-hasil penelitian lainnya.
Rendahnya tingkat kedalaman dan kelengkapan koleksi dari segi kualitas, jumlah koleksi yang tidak terlampau banyak bila dibandingkan dengan jumlah mahasiswa serta pengajar Bimbingan Konseling menjadi faktor utama kurangnya daya dukung koleksi untuk riset-riset bidang Bimbingan Konseling yang dilakukan oleh civitas akademik. Karya-karya umum yang dihasilkan oleh ahli Bimbingan konseling Prof. Prayitno perlu mendapat prioritas dalam kebijakan pengembangan koleksi. Ketiga evaluator juga menekankan perlunya pengadaan bahan literatur yang mutakhir mengingat perkembangan ilmu Bimbingan konseling yang cukup baik.
Adanya CCL pada kisaran 1-2 dan CG yang berada pada arus 2b-3a mengindikasikan perpusatkaan perlu bekerja keras untuk membenahi pengadaan koleksinya secara bertahap. Pada kenyataannya, pengadaan koleksi Bimbingan Konseling di Perpustakaan STAIN Curup masih mengalami ketertinggalan jika dibandingkan dengan elemen manajemen lainnya seperti staf, fasilitas, keorganisasian dan prasarana lainnya.
Pemberian aras indikator untuk koleksi Bimbingan Konseling di Perpustakaan STAIN Curup yang berada pada kisaran 12 memang wajar jika melihat kondisi koleksi di Perpustakaan STAIN Curup. Indikator CG yang berada pada aras 3a juga menekankan bahwa manajemen perpustakaan perlu segera melakukan pembuatan kebijakan pengembangan koleksi inti perpustakaan. Dan berdasarkan tabel conspectus, terlihat bahwa peringkat ketiga teratas ditempati oleh subjek Bimbingan Konseling, Psikologi Konsleing dan Psikologi Perkembangan yang masing-masing berada pada aras 2b, evaluator juga menjelaskan bahwa penetapan CG pada aras 3a merupakan suatu bentuk harapan yang tidak terlalu tinggi agar manajemen perpustakaan melakukan upaya yang seoptimal mungkin untuk melakukan pembenahan menajemen pengelolaan oleksi secara bertahap. Pembenahan ini dilakukan agar koleksi perpuatakaan dapat mendukung kegiatan belajar mengajar serta riset di lingkungan STAIN Curup. Dengan demikian, secara bertahap perpustakaan perlu meningkatkan aras koleksi satu tingkat secara konsisten dalam jangka waktu yang tidfak terlampau lama.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui minimnya aras conspectus koleki disebabkan oleh beberapa faktor yakni:
1.      Perpustakaan STAIN Curup belum mampu mengelola jurnal secara konsisten.
2.      Variasi judul dari karya-karya yang ditulis oleh ahli Bimbingan Konseling dan yang cukup dikenal masih berada dalam kondisi yang terbatas.
3.      Perpustakaan belum memiliki program kerja untuk mengelola sumber-sumber informasi elektronik serta akses-akses ke pangkalan data bidang Bimbingan Konseling.
4.      Perpustakaan memiliki keterbatasan anggaran untuk pengadaan koleksi secara proporsional sehingga penambahan koleksi harus berbago dengan penambahan yang berasal hibah dari pihak lain yang bersifat subjektif.
c)                  Cangkupan Bahasa
Bahan litertaur bidang Bimbingan Konseling di Peprustakaan STAIN Curup didominasi oleh terbitan berbahasa Indonesia. Pada kelas-kelas tertentu ditemukan bahan literatur yang menggunakan bahasa selain bahasa indonesia seperti Bahasa Inggris dalam jumlah ynag snagat sedikit atau tidak signifikan. Dan bahan tersebut adalam terbitan lama sehingga kondisi tersebut dikarenakan kegiatan pengembangan koleksi yang dilakukan oleh pihak perpustakaan saja. Adapun penjelasan mengenai kode bahasa adalah sebagai berikut:
·                     Kode E (English) yang menunjukkan bahwa koleksi buku dalam bahasa inggris mendominasi, sedangkan koleksi buku dalam bahasa lian hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Kondisi tersebut dapat ditemukan pada semua subkelad ang berada pada kelas 155-159 dan 370-371 yang sebagian besar bukan dalam bahasa Inggris. Untuk sekarang untuk kode ini belum dapat dikatakan terlaksana karena kenyataannya di Perpustakaan STAIN Curup kebnayakan koleksi yang ada dimdominasi oleh satu bahasa yakni bahasa Indonesia.
·                     Untuk kode F (Selected non-English Languages) yakni bahan selain bahasa Inggris yang terseleksi utnuk melengkapi koleksi dalam bahasa Inggris, yang belum bisa dikatakan relevan karena untuk subjek Bimbingan Konseling di perpustakaan STAI Curup didominasi satu bahasa
·                     Sedangkan untuk kode W (Wide Selection Language) yakni menunjukkan seleksi yang luas dalam berbgai bahasa dan tidak ada program untuk membatasi bahan pustaka berdasarkan bahasa tertentu dan Perpustakaan STAIN Curup pada dasarnya belum mempunyai aturan dan perencanaan yang jelas untuk membatasi bahas koleksi buku yang disimpan walaupun variasi tidak terllau beragam.
·                     Yang terakhir mengenai kode Y (One non-English Language) koleksi didominasi oleh salah satu bahasa diluar bahasa Inggris. Eadaan tersebut dapat ditemukan pada Perpustakaan STAIN Curup, karena memang sebagian besar koelksi bukunya bukan dalam bahasa Inggris, namun bukan berarti koleksi dalam bahasa Inggris tidak ada.
Keadaan ini terkait dengan belum adanya kebijakan pengembangan koleksi tertulis yang jelas. Dalam pengadaan koleksi, pihak perpustakaan hanya memanfaatkan pemberian form untuk judul-judul yang diperlukan oleh staf pengajar ada program studi Bimbingan Konseling. Bahwa koleksi buku bidang Bimbingan Konseling di perpustakaan Curup didominasi oleh terbitan berbahasa Indonesia. Pada kelas-kelas tententu ditemukan bahasa litetatur yang menggunakan bahasa selain itu Bahasa Indonesia seperti dan Bahasa Inggris dalam jumlah yang tidak signifikan. Dan sedikitnya koleksi berbahasa Inggris karena sulitnya untuk mendapatkan koleksi tersebut, sehingga pihak perpusatkaan lebih memprioritaskan pengadaan koleksi Bimbingan Konseling dari terbitan dalam negeri meski dalam jumlah yang terbatas. Dengan demikian, gambaran umum yang dapat diperoleh dari analisis bahasa pada koleksi bidang Bimbingan Konseling di Perpustakaan STAIN Curup adalah bahwa perpustakaan lebih cenderung mengoleksi bahan literatur berbahasa Indonesia daripada bahasa Inggris.
Hal yang menarik yang perlu diperhatikan dari penerapan unsur bahasa ini adalah, kode-kode tersebut tidak bisa dikatakan adil, karena sangat mengacu kepada bahasa Indonesia. Kode kode tersebut akan menjadi sangat sulit apabila diterapkan di daerah-daerah atau Negara-negara di luar Inggris. Akan lebih memungkinkan apabila untuk daerah atau Negara di Luar Inggris (bukan penutur bahas Inggris), kode E diubah menjadi kode bahasa untuk daerah tersebut. Karena sebagian besar koleksi bukunya menggunakan bahasa setempat, meskipun hal itu belum terjadi di Peprustakaan STAIN Curup mengingat keterbatasan terbitan luar. Itulah sebabnya penggunaan kode bahasa sebagai alat ukur tidak dapat dikatakan ideal.

d)                 Cangkupan Kronologi
Cangkupan kronologi koleksi untuk subjek Bimbingan Konseling di Peprustakaan STAIN Curup bisa dikatakan cukup relevan. Hal ini dikarenakan Program Studi Bimbingan Konseling baru tiga kali manamatkan alumni yakni sejak tahun 2008. Kenyataan ini dapat dilihat dari prosentase distribusi cakupan kronologi dalam tabel berikut:
No
Tahun Terbit
Jumlah
Persentase
1
<1980
3
2,3%
2
1980-1989
12
9,3%
3
1990-1999
28
21,7%
4
2000-2009
84
65,1%
5
2010-
2
1,5%

Dari data yang ada pada tabel diatas dapat terlihat bahwa cakupan kronologi untuk koleksi subjek Bimbingan Konseling didominasi oleh terbitan tahun 2000-an dan 99-an. Untuk koleksi terbutan setelah tahun 2010 menempati urutan terkecil dengan persentase 1,5% saja. Dalam WLN Collection Assessment Manual (1992) disebutkan bahwa kemutakhiran koleksi adalah 10% dari total koleksi di mana kemutakhiran koleksi yang dimaksud adalah terbitan lima tahun terakhir. Penulis berpendapat untuk konteks perguruan tinggi di mana disiplin ilmu cukup bervariasi dan bahan literatur mutakhir diperlukan untuk mendukung kurikulum, maka dapat dijadikan acuan bagi kondisi aktual kemutakhiran koloksi di Perpustakaan STAIN Curup. Sehingga dilakukan.  

D.                PENUTUP
Berdasarakan penjelasan mengenai pembahasan pada penelitian ini,  maka dapat disimpulkan bahwa sebagai berikut:
1.                  Secara umum, kelengkapan dan kedalaman koleksi-koleksi Bimbingan Konseling berada pada aras minimal dan belum mampu untuk mendukung program pendidikan yang ditawarkan serta berkala sesuai dengan tingkat perkembangan perpustakaan itu senidri dan menaikkan aras koleksi secara bertahap baik koleksi utama dan pendukung. Penerapan metode conspectus untuk analisis ekuatan dan kelemahan koleksi untuk nsubjek Bimbingan Konseling memiliki keterbatasan-keterbatasan, hal ini karena belum adanya keterbatasan adanya kebijakan pengembangan koleksi secara tertulis dikarenakan tidak adanya komunikasi antara oihak perpustakaan dan pihak prodi Bimbingan Konseling, sehingga kurang efektif mengenai manajemen akuisisi bahan literaturnya.
2.                  Koleksi 371 dan 159 merupakan subjek yang menjadi inti koleksi perpustakaan. Namun, kekuatan koleksi masih berada pada level 2b yang masih perlu peningkatan ke aras yang diharapkan bisa meningkat pada level 3a. Hal ini dipengaruhi oleh variasi judul-judul dalam subjek Bimbingan Konseling yang tersedia. Dan variasi judul hanya bisa dimungkinkan bila secara kuantitas jumlah koleksi yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari presentase distribusi subjek untuk kelas 371 (26,6%), 159 (21,1%), dan 156 (17,4%) yang berada pada level 2b. Sedangkan untuk analisis bahasa pada subjek Bimbingan Konseling memperlihatkan bahwa mayoritas koleksi untuk tiap kelas, bahwa koleksi mendominasi oleh salah satu koleksi di luar Bahasa Inggris, sehingga koleksi berbahasa Inggris hanya tersedia sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

Hardesty, Larry. (1991). Why Do We Need Academic Libraries?. http://www.ala.o-rg/arcl/academiclib,html. Diakses pada tanggal 5 januari 2016.

Misroni, (2011). Evaluasi Koleksi Menggunakan Metode Conspectus Bidang Bimbingan Konseling Di Perpustakaan Stain Curup (Depok: Program Magister Perpustakaan), hlm.15. diunduh melalui http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20271626-T29273-Evaluasi%20koleksi.pdf. Diunduh pada tanggal 25 November 2015.

H Mary and Jennie E Ver Steeg, (2004).“The Decision-Making Process in Conspectus Evaluation of Collection: The Quest for Certainty”, Library Quartery”, April Vol.74. hlm.181.



[1] Larry Hardesty.(1991). Why Do We Need Academic Libraries?. http://www.ala.o-rg/arcl/academiclib,html. Diakses pada tanggal 5 januari 2016.
[2] Misroni, Evaluasi Koleksi Menggunakan Metode Conspectus Bidang Bimbingan Konseling Di Perpustakaan Stain Curup (Depok: Program Magister Perpustakaan), hlm.15. diunduh melalui lib.ui.ac.id/file?file=digital/20271626-T29273-Evaluasi%20koleksi.pdf. diakses pada tanggal 25 November 2015.
[3] H Mary and Jennie E Ver Steeg, (2004).“The Decision-Making Process in Conspectus Evaluation of Collection: The Quest for Certainty”, Library Quartery”, April Vol.74. hlm.181.
[4] Misroni, Evaluasi Koleksi Menggunakan Metode Conspectus...hlm.27.
[5] Ibid., hlm.28
[6] Ibid., hlm.28.
[7] Ibid., hlm.28.
[8] Ibid., hlm.34.
[9] Ibid., hlm.34.
 



Subscribe to Our Blog Updates!




Share this article!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Return to top of page
Powered By Blogger | Design by Genesis Awesome | Blogger Template by Lord HTML